Saturday, March 31, 2012

Meraih Barakah Keluarga

Oleh Mohammad Fauzil Adhim


Bukan harta yang menyebabkan duka atau bahagia, tetapi jiwa kita. Bukan sempat yang menyebabkan kita mampu menjalin hubungan yang lebih erat dengan istri atau suami kita, tetapi selarasnya kondisi ruhiyah kita. Sebab sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam, ruh itu seperti pasukan. Mereka akan mudah bersatu dan cenderung mendekat dengan yang serupa. Sebaliknya akan mudah berselisih, meski senyum masih mengembang di wajah mereka. Hati gelisah, jiwa resah, ketenangan tak lagi kita rasakan dan pelahan-pelahan kita mulai mengalami kehampaan jiwa. Ketika itu terjadi, banyak hal tak terduga yang bisa muncul. Kita bisa mencari "jalan keluar" yang justru semakin menjauhkan satu sama lain, meski masih tinggal serumah, masih sama-sama aktif di kegiatan dakwah yang sama.

Maka ada yang perlu kita perhatikan. Bukan hanya bagaimana cara berkomunikasi efektif antara suami-isteri; bukan pula semata soal bagaimana kita memberi perintah yang menggugah kepada anak-anak kita. Lebih dari itu, ada yang perlu kita periksa, adakah ruh kita saling bersesuaian satu sama lain ataukah justru sebaliknya saling berseberangan. Boleh jadi kita bertekun-tekun dan saling melakukan kegiatan yang sama-sama penuh kebaikan, tetapi niat yang mengantarkan dan mengiringi berbeda, maka yang kita dapatkan pun akan berbeda. Sesungguhnya tia-tiap kita akan memperoleh sesuatu niat yang menggerakkan kita melakukan sesuatu.

Sama kegiatan yang kita lakukan, beda niat yang senantiasa menyertai, akan membawa kondisi ruhiyah kita pada keadaan yang berbeda. Itu sebabnya, meski sama-sama bertekun dengan kebaikan yang sama, keduanya dapat menuju tataran ruhiyah yang berbeda atau bahkan saling berseberangan.

Sesungguhnya tiap amal atau ibadah yang kita kerjakan, meski cara sama-sama benar sesuai yang digariskan, niat melakukannya dapat termasuk:

1. Ikhlas karena Allah & Hanya Berharap Ridha Allah
2. Ikhlas karena Allah, tapi Tujuannya Dunia (Syirik Niat)
3. Tidak Ikhlas
• Riya' dan Tidak Mencari Dunia
• Riya' dan Mengharap Dunia dari Amalnya
4. Tidak karena Allah, Tidak untuk Akhirat, Tidak Pula untuk Dunia

Hanya niat ikhlas karena Allah 'Azza wa Jalla dan akhirat tujuannya yang dapat menjadikan hidup kita dan keluarga kita penuh barakah. Maka agar rumah-tangga berlimpah barakah, suami-isteri perlu saling mengingatkan untuk senantiasa meluruskan niat dan menjaga amalnya dari cara-cara yang bertentangan dengan tuntunan dienul Islam.

Inilah yang perlu kita renungi. Inilah yang perlu kita telisik dalam diri kita dan keluarga kita. Jika apa yang sepatutnya kita kerjakan telah kita penuhi, jika komunikasi sudah kita jalin dengan baik, teapi hati kita gersang meski tak ada perselisihan, maka inilah saatnya kita menelisik niat dan orientasi kita dalam beribadah, beramal dan menjalani kehidupan rumah-tangga.

Mari kita ingat sejenak ketika Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (QS. Al-An'aam, 6: 162-163).

Tidak mungkin hidup kita –termasuk keluarga kita—hanya untuk Allah Ta'ala jika shalat dan ibadah kita saja bukan untuk Allah 'Azza wa Jalla.

Sesudahnya, kita perlu periksa rezeki yang kita dapatkan, adakah ia penuh barakah atau justru sebaliknya tak ada barakah sedikit pun di dalamnya? Atas setiap rezeki yang barakah, bertambahnya membawa kebaikan yang semakin besar, dan berkurangnya tidak menciutkan kebaikan. Mungkin mata kita melihatnya berat, tapi ada ketenangan dan kebahagiaan pada diri mereka, meski mereka nyaris tak pernah bersenang-senang. Sebaliknya jika rezeki tak barakah, bertambahnya semakin menjauhkan hati mereka satu sama lain. Sedangkan berkurangnya membawa hati kita saling bertikai, meski tak ada pertengkaran, atau sekurang-kurangnya menyebabkan terjauhkan dari kebaikan.

Wallahu a'lam bish-shawab.